🎫 Pupuk Phonska Untuk Bawang Merah
Dosispupuk untuk tanaman bawang merah 2.000 kg Petroganik, 800 kg PHONSKA dan 400 kg ZA per ha. Satu hari sebelum tanam, bedengan disiram agam gembur dan umbi bibit tidak luka saat ditanam. Kebutuhan umbi bibit 800 - 1000 kg per ha. Umbi bibit sudah didormansi selama 3-4 bulan, dengan tanda dibelah sudah nampak bakal tunas yang berwarna hijau.
AGRICA 10 (1) : 8 - 16(2017) ©Fakultas Pertanian Universitas Flores ISSN : 1979-0368 Ende NTT - Indonesia 8 PENGARUH PUPUK NPK PHONSKA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TUMPANG SARI CABAI (Capsicum annum L.) DAN BAWANG MERAH (Allium cepa L.) Josina I.B.Hutubessy
Keduajenis pupuk hanya terdiri dari urea dan npk phonska saja dari sebelumnya ada 7 jenis pupuk. Ketiga, komoditas untuk usahatani tanaman pangan (pajale), hortikultura (cabe, bawang merah dan putih) dan komoditas perkebunan (kakao, kopi, tebu) terbatas 9 komoditas utama perubahan sebelumnya ada 70 komoditas.
Beberapapupuk yang direkomendasikan oleh menggunakan beberapa pupuk penyubur tanaman bawang diantaranya adalah 1. Obat Penyubur Tanaman Bawang Gromitan Produk gromitan dengan kandungan kombinasi alami dengan hormon mempercepat pertumbuhan lengkap. Anda bisa mendapatkan pupuk gromitan di Tokopedia Utamatani atau Bisatani. 2.
Denganpemupukan berimbang dan menggunakan jenis pupuk Phonska Plus PT Petrikimia Gresik.. Hasil panen meningkat.
Foto Istimewa Penandatangan ketiga kemasan pupuk oleh jajaran Board of Directors (BOD) GRESIK | Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, kembali meluncurkan tiga pupuk baru untuk pertanian Indonesia, Petro ZA Plus, Phosgreen, dan pupuk organik Petroganik Premium. Peluncuran ditandai dengan penandatangan ketiga kemasan pupuk oleh
Keunggulanpupuk ini mampu memacu pertumbuhan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun dan menjadikan warna daun nampak lebih hijau. Selain itu juga meningkatkan mutu hasil panen dengan memperbaiki warna, aroma, rasa, dan besar buah/umbi, serta menjadikan tanaman lebih tahan terhadap serangan hama atau penyakit.
pupukke 2 menggunakan phonska plus untuk bawang merah usia 10 hari Group petani bawang di wa081515748880
Jenispupuk Phonska berikutnya adalah pupuk NPK Ria Plus 15-15-15. Pupuk jenis ini dapat digunakan untuk semua jenis tanaman hortikultura, tanaman pangan, serta perkebunan. Kandungan dari pupuk Phonska jenis ini hanya mengandung 3 unsur hara utama yaitu nitrogen sebesar 15%, phosphate sebesar 15%, dan kalium sebesar 15%. Sifat - Sifat Pupuk Phonska
. Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk Phonska yang terbaik yang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada bawang merah di tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan selama 75 hari dimulai dari penanaman pada tanggal 17 Juli 2012 hingga panen pada tanggal 30 September 2012. Lokasi penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan pola Rancangan Acak Lengkap RAL yang terdiri dari 5 perlakuan, 5 ulangan dan setiap perlakuan dalam 1 ulangan terdapat 3 sampel tanaman, jumlah keseluruhan tanaman sebanyak 75 tanaman. Adapun perlakuan sebagai berikut p1 = 0,8 g/polybag, p2 = 1,6 g/polybag, p3 = 2,4 g/polybag, p4 = 3,2 g/polybag, p5 = 4 g/polybag. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman cm, jumlah daun per rumpun helai, jumlah umbi per rumpun umbi, berat segar umbi per rumpun g, dan berat kering angin umbi per rumpun g. Lima dosis pemberian pupuk Phonska memberikan pengaruh tidak nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun per rumpun, jumlah umbi per rumpun, dan berat kering angin umbi per rumpun. Pemberian pupuk Phonska berpengaruh nyata terhadap berat segar umbi per rumpun, dengan hasil terbaik pada dosis 2,4 g/polybag atau setara dengan 600 kg/Ha.
Related PapersNaskah diterima tanggal 13 Januari 2015 dan disetujui untuk diterbitkan tanggal 23 September 2015 ABSTRAK. Efektivitas pengelolaan pupuk organik, NPK, dan pupuk hayati pada budidaya bawang merah telah diteliti pada tanah Alluvial lahan bekas sawah, di Cirebon-Jawa Barat. Tujuannya untuk menetapkan dosis pupuk organik, pupuk NPK, dan pupuk hayati yang efektif untuk peningkatan hasil bawang merah, serta dapat menurunkan besaran emisi GRK CO 2. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April sampai Agustus 2014 menggunakan rancangan petak terpisah dan diulang sebanyak tiga kali. Petak utama adalah dua varietas bawang merah A, terdiri atas a 1 = varietas Bima dan a 2 = varietas Mentes. Anak petak adalah pengelolaan pupuk B, meliputi b 1 = 1 dosis NPK rekomendasi, b 2 = 1 dosis NPK rekomendasi + 100 kg/ha NPK Mutiara, b 3 = 1 dosis NPK rekomendasi + pupuk organik, b 4 = 1 dosis NPK rekomendasi + pupuk organik + pupuk hayati Biotricho, b 5 = ½ dosis NPK rekomendasi + pupuk organik, dan b 6 = ½ dosis NPK rekomendasi + pupuk organik + pupuk hayati. Hasilnya menunjukkan tidak terjadi interaksi antara varietas dan pengelolaan pupuk tersebut terhadap pertumbuhan, serapan hara NPK, dan hasil umbi bawang merah pada tanah Bima menghasilkan pertumbuhan, serapan hara NPK, dan hasil umbi bawang merah yang lebih tinggi dan lebih baik dibandingkan varietas Mentes. Pengurangan dosis pupuk NPK sampai 50% rekomendasi dengan disertai pemberian pupuk organik/pupuk hayati tidak mengurangi pertumbuhan tanaman, serapan hara NPK, dan hasil umbi bawang merah pada tanah Alluvial. Kombinasi perlakuan varietas Bima dengan pemberian NPK dosis rekomendasi + pupuk organik Petroganik menghasilkan bobot umbi segar paling tinggi setara 29,20 t/ha, sedangkan hasil bobot umbi kering bawang merah paling tinggi setara 14,62 t/ha diperoleh pada varietas Bima dengan pemberian NPK ½ dosis rekomendasi + pupuk organik Petroganik yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya dan mampu menurunkan besaran fluks CO 2 > 25 % selama perkembangan tanaman di lapangan. Implikasi dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan organik dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik NPK yang sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan tanpa mengurangi produktivitas hasil bawang merah. ABSTRACT. The effectiveness of organic fertilizers, NPK, and biofertilizers managements on shallots cultivation have been studied in the former rice field Alluvial soil, at Cirebon, West Java. The aimed was to establish the application among of organic fertilizer, NPK, and biofertilizers which was effective for increasing growth and yields of shallots, as well as the reducing amount of greenhouse gas emissions CO 2. The study was conducted from April to August 2014 by using a split-plot design and repeated three times. The main plot was two varieties of shallots A, which consisted of a 1 = Bima varieties and a 2 = Mentes varieties. The subplots consisted of fertilizers managements B, included of b 1 = 1 dose of NPK recommendations, b 2 = 1 dose of NPK + 100 kg / ha of NPK Mutiara , b 3 = 1 dose of NPK + organic fertilizer, b 4 = 1 dose of NPK + organic fertilizer + biofertilizer Biotricho , b 5 = ½ dose of NPK + organic fertilizer, and b 6 = ½ dose of NPK + organic fertilizer + biofertilizer Biotricho. The results showed no interaction between varieties and fertilizer management on growth, NPK nutrient uptake, and yield of shallots bulbs on Alluvial soil. Bima varieties produced growth, NPK nutrients uptake and yield of shallots bulbs higher than the Mentes varieties. The reduction dose of 50% NPK fertilizer and applied with the organic fertilizer and/or biofertilizer did not reduce plant growth, NPK uptake, and yield of shallots bulbs in Alluvial soil. Bima varieties in combination with the treatment of NPK + organic fertilizer Petroganic produced the highest weight of fresh bulbs equivalent to t/ha. While the highest dry weight of shallots bulbs equivalent to t/ha was achieved in the combination of Bima varieties with ½ dose of NPK + organic fertilizer Petroganic, and also could reduce the amount of CO 2 flux > 25 % during plant development in field. The implications of this study indicated the applied of organic fertilizer could reduce the dose of inorganic fertilizers NPK which is in line with the principles of sustainable agriculture without decreasing productivity of to the rising market demands of spring onion Allium fistulosum L. it is necessary to response them with the best technical plantation. This research is meant to know 1 the effective plant spacing, 2 the effective seedlings tuber cutting, and 3 to decide the interaction between plant spacing and the seedlings tuber cutting spring onion. The research was done on April 2018 until June 2018 at Dusun Gewok, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. The design of the research is a Randomized Complete Block Design RCBD with two factors. The first factor is the plant spacing which consist of 3 levels, 15 x 20 cm, 20 x 20 cm, and 25 x 20 cm. The second factor is seedling tuber cutting which consist 3 levels, without cutting, cutting ½ part, and cutting 2/3 part. The data analyzed using F test, then continued using Duncan’s Multiple Range Test DMRT on level 5%. The result showed that the most effective to reach the higher level and the best yield is ...There has been a shift towards sustainable agriculture including organic farming system. Organic fertilizer is absolutely necessary in organic farming to replace synthetic fertilizers. In addition, weed control is nessesary to prevent yield decrease. This study aimed to compare influence of different types of compost and weed control periode on growth and yield of sweet corn. This research was carried out in January-March 2016 in Padang Serai, Kampung Melayu Subdistrict, Bengkulu City, Indonesia. The design used in the experiment was Complete Random Design with two factors. The first factor was synthetic fertilizer, vermicompost, litter compost, wedelia compost and water hyacinth compost, whereas the second factor was the weed control periode which were 3 WAP week after planted as well as 3 and 6 WAP. Sweet corn plants that nurtured with compost has better growth and yield compared to a plant that just nurtured with inorganic fertilizers. The best growth and yield of sweet corn pl...Daging ayam merupakan salah satu produk peternakan yang memegang peran cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia sebagai sumber protein hewani. Bentuk olahan daging ayam yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah nugget ayam. Tepung atau pati yang biasa digunakan untuk pembuatan nugget adalah tepung terigu. Indonesia mempunyai banyak jenis umbi lokal yang dapat menghasilkan pati dan memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan pengisi filler dalam pembuatan nugget, misalnya umbi gembili. Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan pati gembili terhadap sifat fisik yang sama dengan kontrol dan akseptabilitas nugget ayam yang paling disukai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap RAL dengan 5 perlakuan tepung terigu 10% sebagai kontrol dan pati gembili 5%, 10%, 15% dan 20% dan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan Analisis Ragam dan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan digunakan Uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan tingkat pati gembili 5% menghasilkan nugget ayam dengan persentase daya ikat air 46,40%, susut masak 6,31% dan kekenyalan 133,75 mm/g/10 detik yang sama dengan kontrol serta secara akseptabilitas paling disukai dengan skala hedonik suka-sangat suka 4,00- 4,15. Kata Kunci Nugget ayam, pati gembili, daya ikat air, susut masak, kekenyalan, akseptabilitasThe research was conducted during 4 four months, from September to Desember 2016. Located in Field Laboratory of STIPER Kutai Timur. The research aims to determine the effect of variation of NPK fertilizer on growth and production of soybean. The research methode used a non factorial Randomized Block Design which consist of 4 treatments and 5 replications. The treatments were; P0 = without fertilizer control, P1 = NPK Pelangi 10 grams plant-1 , P2 = NPK Mutiara 10 grams plant-1 , and P3 = NPK Phonska 10 grams plant-1. The parameters were height of plant centimeter, number of branches stalk, number of pods, seed weight plant-1 grams and productivity ton hectare-1 The results showed the effect of NPK fertilizer is not significant on the growth and production of soybean on all treatments. The NPK Mutiara is the best treatments. It had height of plant 29,20 cm, number of branches 10,03 stalk, number of pods 25,37/plant , seed weight 56,13 grams/plant and production 2,25 tons/hektar. ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, mulai September-Desember 2016. Lokasi bertempat di laboratorium lapang Departemen Agroteknologi STIPER Kutai Timur. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk majemuk terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK nonfaktorial dengan 4 perlakuan, masing-masing diulang 5 kali. Adapun perlakuan tersebut yaitu P0 Tanpa pupuk majemuk, P1 NPK Pelangi 10 gram tanaman-1 , P2 NPK Mutiara 10 gram tanaman-1 , P3 NPK Phonska 10 gram tanaman-1. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong, berat biiji kering dan produktivitas kedelai. Hasil penelitian menunjukkan pupuk NPK tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai pada seluruh perlakuan. Pupuk NPK Mutiara merupakan perlakuan yang terbaik yang memberikan tinggi tanaman 29,20 cm, jumlah cabang 10,03 tangkai, jumlah polong/tanaman 25,37 polong, berat biji kering kedelai/tanaman 56,13 gram, dan produksi biji kering kedelai/hektar 2,25 ton/hektarABSTRAK. Brebes merupakan sentra bawang merah di Jawa Tengah dengan jenis tanah Alluvial yang mempunyai kadar bahan organik dan N-total tergolong sangat rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan menambahkan bahan organik dan pupuk N dengan dosis yang tepat. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh varietas bawang merah dan dosis pemberian pupuk N terhadap pH tanah, N-total tanah, serapan N, dan hasil dua varietas tanaman bawang merah Allium ascalonicum L. pada tanah Entisols Brebes, Jawa Tengah. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat m dpl. dari Bulan November 2011 sampai dengan Januari 2012. Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terbagi dengan tiga kali ulangan. Petak utama ialah varietas, terdiri atas varietas Bangkok dan Kuning. Anak petak ialah dosis pupuk N, terdiri atas lima taraf yaitu 0, 45, 90, 135, dan 180 kg/ha. Hasil percoban menunjukkan bahwa dosis pupuk N dan varietas bawang merah berinteraksi memengaruhi penurunan pH tanah, tetapi tidak demikian halnya dalam meningkatkan N-total tanah, serapan N tanaman, dan hasil tanaman bawang merah. Secara mandiri varietas dan dosis pupuk N memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan N-total tanah, tetapi tidak terhadap serapan N hasil tanaman bawang merah. Tidak didapat dosis optimum pupuk N untuk varietas Bangkok maupun varietas Kuning. Implikasi penelitian ini bahwa pupuk N dalam dosis yang cukup diperlukan untuk meningkatkan produktivitas tanah Entisols dan tanaman bawang merah. ABSTRACT. Brebes is the center of shallots in Central Java with Alluvial soil types that have low levels of organic matter and also low total-N. One effort to improve the soil fertility is to add organic matter and N fertilizer N at the correct dosages. The objective of this study was to determine the effect of N fertilizer dose on the soil pH, soil total-N, N uptake, and yield of two shallots Allium ascalonicum L. varieties grown on Entisols soil types from Brebes, Central Java. The experiment was conducted at the Screen House in the Indonesian Vegetable Research Institute , Lembang, West Java 1,250 m asl. from November 2011 to January 2012. The experimental design was a split plot with three replications. The main plot was the variety, consisting of cv. Bangkok and Kuning. The subplot was the dose of N fertilizer consisting of five levels 0, 45, 90, 135, and 180 kg / ha. The results of the experiment showed that there was an interaction between the dose of N fertilizer and the shallots varieties on the decrease of soil pH, but there was no interaction affect on the increasing of soil total-N, N uptake, and yield of shallots. Independently, varieties and fertilizer N gave significant effect on the increase in total-N soil, but not on the N uptake of shallots crop. There was no optimum dosage of N fertilizer neither for Bangkok variety nor the Kuning variety. The implication of this study that N fertilizer in sufficient doses was required to improve soil fertility and yield of shallots. Bawang merah Allium ascalonicum L. merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai arti penting bagi masyarakat baik dilihat dari nilai ekonomisnya yang tinggi maupun dari kandungan gizinya. Meskipun bawang merah bukan kebutuhan pokok, namun kebutuhan bawang merah tidak dapat dihindari oleh konsumen rumah tangga sebagai pelengkap bumbu masakan sehari-hari. Kegunaan lain dari bawang merah ialah sebagai obat tradisional yang manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat luas. Demikian pula pesatnya pertumbuhan industri pengolahan makanan akhir-akhir ini juga cenderung meningkatkan kebutuhan bawang merah di dalam negeri. Di Indonesia, bawang merah telah lama diusahakan oleh petani sebagi usahatani yang bersifat komersil, yaitu dicirikan oleh sebagian besar atau seluruh hasil produksinya ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar. Usahatani bawang merah memiliki keunggulan komparatif Adiyoga & Soetiarso 1997. Guna memenuhi permintaan pasar, peningkatan produksi dan mutu hasil bawang merah harus ditingkatkan. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara intensifikasi pemupukan yang berimbang. Kabupaten Brebes dikenal sebagai sentra produksi bawang merah di Jawa Tengah, dengan jenis tanah Alluvial Entisols. Entisols ialah salah satu jenis tanah mineral yang baru berkembang, yang mana sifat-sifatnya sebagian besar ditentukan oleh bahan
JAKARTA, - Pemupukan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam budi daya bawang merah. Walau demikian, penggunaan pupuk bawang merah tidak boleh sembarangan. Pemupukan tanaman bawang merah harus memenuhi syarat 4T, yaitu tepat jenis, tepat waktu, tepat cara, dan tepat kombinasi. Baca juga Cara Menanam Bawang Merah agar Tumbuh Subur Tak hanya itu, unsur hara yang ada dalam pupuk juga harus menjadi pertimbangan sebelum melakukan pemupukan, terutama unsur nitrogen, fosfar, dan kalium. SHUTTERSTOCK/BON JOVI Ilustrasi pupuk NPK mutiara. Mengutip dari Cybex Kementerian Pertanian, berikut tahapan pemupukan dan jenis pupuk yang digunakan dalam budi daya tanaman bawang merah. Pemupukan dasar Pemupukan dasar diberikan saat pengolahan lahan dan sebelum dilakukan penanaman bibit bawang merah. Pupuk tersebut disebar di atas bedengan dan diaduk merata dengan media pupuk bawang merah yang digunakan, yaitu pupuk NPK Mutiara 161616, SP36, dan KCL. Selain itu, biasanya pupuk kompos atau kandang bisa digunakan dalam pemupukan dasar. Baca juga 5 Hama Tanaman Bawang Merah dan Cara Mengendalikannya Namun, perlu diingat, jika ingin menggunakan pupuk kompos, sebaiknya kurangi penggunaan pupuk NPK Mutiara menjadi setengahnya. Pemberian pupuk dasar dilakukan minimal dua minggu sebelum tanam. Alasannya, pupuk dasar mengandung unsur fosfar dan kalium yang sulit larut. Dengan pemberian pupuk dasar, unsur hara tetap tersedia selama pertumbuhan bawang merah. Baca juga Cara Budidaya Bawang Merah agar Panennya Melimpah Pemupukan susulan pertama Setelah pemupukan dasar, tanaman bawang merah juga diberi pupuk susulan pertama. Jenis pupuk bawang yang digunakan pada tahap ini adalah pupuk urea atau pupuk ZA.
pupuk phonska untuk bawang merah